Jumat, 17 Januari 2014


KETERBACAAN
TEKS “ANEKDOT HUKUM PERADILAN”

DATA 1
DATA BERDASARKAN PERHITUNGAN KATA

Pada zaman dahulu di suatu negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang
1         2        3        4    5       6           7      8      9        10      11    12     13
tukang pedati yang rajin dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke
  14        15    16     17    18    19    20      21  22     23           24         25       26
pasar dengan pedatinya. Suatu pagi dia melewati jembatan yang baru dibangun.
  27      28        29          30      31  32     33         34           35    36       37

Seperti halnya orang yang telah dipanggil terlebih dahulu oleh hakim, si 
   38       39        40     41     42       43          44         45      46     47     48
pembantu pun bertanya kepada hakim perihal kesalahannya. Sang Hakim
    49          50      51         52       53       54           55              56       57
memberi penjelasan tentang kesalahan si Pembantu yang menyebabkan tukang
    58           59            60        61        62    63          64          65              66      
pedati kehilangan kuda dan dagangannya si pedati.
    67          68                69       70             71              72     73
Setelah si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang itu
     74    75    76           77      78           79         80       81    82     83    84
dimasukkan ke penjara dan uangnya disita. Sang Hakim bertanya kepada khalayak
      85            86   87      88     89        90         91     92        93         94           95
ramai yang menyaksikan pengadilan tersebut, ”Saudara-saudara semua,
   96      97       98                 99              100           101         102      103
bagaimanakah menurut pandangan kalian, peradilan ini sudah adil?” Masyarakat
  104                     105        106           107      108       109   110  111      112 
         
yang ada serempak menjawab, “Adiiill!!!”
113    114   115           116            117

DATA 2
DATA BERDASARKAN PERHITUNGAN SUKU KATA

Pa  da za man da hu lu di su  a   tu  ne ga  ra (yang   pas ti  bu kan ne ga ra ki ta)
1    2   3    4    5   6   7   8  9 10  11 12 13  14  15        16  17 18  19  20  21 22 2324          
a   da   seo rang tu   kang pe  da   ti  yang ra  jin dan te kun. Se ti   ap pa gi
25 26  27   28    29   30    31  32   33  34   35  35  36 37 38    39 40 41 42 43
Di  a mem ba wa ba rang da ga ngan ke pa sar de ngan pe da ti nya.
44 45  46      47   48 49   50     51  52  53      54   55 56  57  58      59  60  61 62
Su a    tu pa gi  di   a   me le  wa  ti   jem ba tan  yang ba  ru di bang un.
63 64 65  66 67 68  69 70  71 72   73  74  75  76   77    78 79 80  81    82

Se per ti  hal nya o  rang yang te lah  di pang gil   ter le bih da  hu  lu
83 84  85 86  87  88 89    90    91  92  93 94    95  96 97 98  99 100 101

o     leh  ha  kim,  si    pem ban  tu    pun  ber  ta    nya ke   pa   da  ha   kim
102 103 104 105   106 107  108  109  110  111 112  113 114 115 116 117 118

pe   ri    hal  ke   sa   la    han   nya. Sang Ha   kim  mem be   ri   pen  je
119 119 120 121122  123 124  125   126   127  128  129   130 131 132 133

la     san     ten      tang      ke      sa      la    han    si    Pem    ban    tu
134  135    136      137       138    139    140  141   142  143     144    145

yang menye bab    kan   tu    kang    pe    da    ti    ke    hi    la    ngan ku da
146   147     148   149   150  151      152  153  154 155  156  157 158  159 160

dan da   ga    ngan nya si     pe   da   ti.    Se  te    lah  si    Pem  ban tu   yang
161 162 163  164   165 166 167  168 169 170 171 172 173 174    175 176 177
ber  ba    dan  pen   dek, ku   rus,   dan  pu  nya uang  I      tu
178 179  180  181   182  183 184    185 186 187 188   189  190

di    ma   suk   kan  ke   pen   ja    ra   dan  uang nya di   si     ta     Sang
191 192   193  194  195  196  197 198 199  200   201 202 203  204  205

Ha    kim    ber    ta     nya   ke    pa    da     kha    la    yak    ra    mai
206   207    208    209  210   211  212  213   214    215 216    217 218

yang   me  nyak si     kan   pe   nga   di    lan   ter   se    but,
219     220 221   222  223   224 225   226 227  228  229  230

”Sau da ra-sau da ra se mua,
bagaimanakah menurut pandangan kalian, peradilan ini sudah adil?” Masyarakat
yang ada serempak menjawab, “Adiiill!!!”





Analisis Data

      Berdasarkan data di atas dan dengan didasarkan pada prosedur penghitungan keterbacaan dengan formula Fry, di bawah ini akan disajikan hasil penelitian beserta langkah perhitungannya.

  1. Langkah 1 (Perhitungan berdasarkan jumlah kata)

Jumlah kalimat utuh ada 5 buah ditambah 10 kata pada kalimat terakhir yang jumlah seluruh kata seluruhnya sebanyak 38 kata.

Dengan demikian, rata-rata jumlah kalimat pada wacana di atas adalah 6+ 9/27 = 6,33

  1. Langkah 2 (Perhitungan berdasarkan jumlah suku kata)

Jumlah suku kata pada wacana di atas (tepat 100 kata) ada 230 suku kata. Berdasarkan rumus baku untuk menghitung suku kata maka didapatkan hasil data suku kata sebanyak 230 x 0,6 = 138.

  1. Pencocokan dengan grafik Fry
Setelah langkah 1 dan 2 dilakukan, peneliti memplotkan data ke dalam grafik fry, dan hasilnya adalah titik temu persilangan garis untuk kedua hasil perhitungan tersebut berada di kelas 7.  Oleh karena itu, tingkat keterbacaan wacana tersebut cocok untuk kelas 7 SMP.


D. Kesimpulan
      Temuan hasil penelitian mengungkapkan bahwa dilihat dari analisis Fry ternyata tingkat keterbacaan wacana  berjudul “Anekdot Hukum Peradilan” cocok untuk kelas 7 SMP.

Kamis, 31 Oktober 2013

Fitur Kesantunan Tindak Tutur


ABSTRAK

Jatmiko, Budi. 2013. Fitur Kesantunan Tindak Tutur dalam Tuturan Guru dan Siswa pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Tarakan, Kalimantan Timur. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing: (I) Dr. Suhartono, M.Pd, dan (II) Dr. Maria Mintowati, M.Pd.

Kata Kunci        :    Fitur Kesantunan, Tindak Tutur

       Setiap proses pembelajaran membutuhkan adanya kompetensi afektif yang diantaranya berupa fitur-fitur kesantunan dalam berbahasa. Dalam konteks tersebut, fitur kesantunan berbahasa guru dan siswa dapat berbeda meskipun jenis tindak tuturnya sama. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) fitur kesantunan dan pola, (2) jenis tindak tutur, (3) hubungan antara jenis tindak tutur dengan kesantunan, dan (4) penerapan prinsip kesantunan dalam wacana edukasi di SMK Negeri 2 Tarakan, Kalimantan Timur.
       Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan objek penelitian tindak tutur guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan subjek penelitian guru dan siswa di kelas X SMK Negeri 2 Tarakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik rekam dan teknik catat dengan metode analisis data adalah metode padan pragmatis dan metode agih. Adapun langkah analisis data dilakukan dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi
       Hasil penelitian adalah fitur kesantunan tindak tutur dalam tuturan guru dan siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Tarakan, Kalimantan Timur dicirikan oleh pemakaian diksi dan topik dengan pola tindak tutur salam-salam, salam-pisah, tanya-jawab, perintah-menerima, panggil-jawab, dan tanya-tanya Sejalan dengan tujuan kedua, jenis tindak tutur guru dan siswa dilihat dari bentuknya diperoleh dua jenis tindak tutur, yaitu asertif dan direktif. Oleh guru, tindak asertif digunakan untuk melaporkan dan mengeluh, sedangkan oleh siswa digunakan untuk mengemukakan pendapat dan membual. Selanjutnya untuk tindak direktif, digunakan guru untuk meminta jawaban, meminta tindakan dan mengancam sedangkan oleh siswa digunakan untuk meminta tindakan. Dari struktur dan fungsinya, guru melakukan dua bentuk tuturan, yaitu tuturan interogatif dengan tujuan imperatif dan deklaratif untuk tujuan imperatif, sedangkan siswa melakukan satu bentuk tindak tutur yaitu interogatif dengan tujuan imperatif. Selanjutnya, untuk tujuan ketiga terkait hubungan antara jenis tindak tutur dengan kesantunan ditemukan hubungan bahwa semakin tidak langsung ilokusi tuturan maka semakin santun tuturan tersebut. Sejalan dengan tujuan keempat yaitu penerapan terhadap maksim, guru melakukan 9 penerapan maksim kearifan (Tact Maxim), 1 penerapan maksim pujian (Aprrobation Maxim), dan 2 penerapan maksim simpati (Sympaty Maxim) sedangkan siswa melakukan 9 maksim kesepakatan (Agreement Maxim) dan 2 maksim simpati (Sympathy Maxim)

Minggu, 03 Februari 2013


POLA INTEGRASI LEKSIKON BAHASA INDONESIA KE DALAM BAHASA DAYAK BAHAU, MAHAKAM HULU, KALIMANTAN TIMUR

Oleh : Budi Jatmiko (NIM. 117835443)

ABSTRAK

      Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan bahasa ini mengakibatkan adanya gejala bahasa yang disebut integrasi. Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain secara sistematis seolah-olah merupakan bagian dari suatu bahasa tanpa disadari oleh pemakainya.     
      Secara nyata, integrasi juga terjadi dalam tataran leksikon bahasa Indonesia ke dalam bahasa Dayak Bahau, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur. Berdasarkan data yang digunakan oleh penulis, ditemukan adanya dua pola integrasi, yaitu (1) pola integrasi fonologis, (2) pola integrasi ortografis.
      Pola integrasi fonologis dibagi menjadi dua bagian, yaitu integrasi total dan integrasi dengan modifikasi. Pola Integrasi fonologis total ditemukan data sebanyak enam belas leksikon, sedangkan untuk integrasi fonologis dengan modifikasi dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu dengan pergeseran fonem, penghilangan fonem, dan penambahan fonem. Sedangkan pola integrasi ortografis dalam penelitian ini hanya ditemukan satu pola yaitu dengan pola ortografis total.

Kata Kunci : Integrasi, Pola Integrasi.


A.  Pendahuluan
      Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena adanya faktor perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Dari sudut pandang budaya, perkembangan bahasa terjadi cukup pesat yang salah satu penyebabnya adalah karena adanya kontak budaya dengan budaya lain. Akibat dari adanya kontak pada budaya ini adalah adanya keterpengaruhan bahasa satu oleh bahasa yang lain, tergantung bahasa mana yang lebih dominan.
      Dalam perspektif ini, bahasa dapat dikatakan sebagai bagian integral dari kebudayaan sudah dapat dipastikan tidak akan dapat terlepas dari masalah di atas. Saling mempengaruhi antarbahasa pasti terjadi, walaupun hanya terjadi pada tataran kosakata bahasa yang bersangkutan, mengingat kosakata itu memiliki sifat terbuka.
      Suwito (1985:39-40) mengatakan bahwa apabila dua bahasa atau lebih digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama, dapat dikatakan bahwa bahasa tesebut dalam keadaan saling kontak. Gejala dalam diri pemakai tersebut adalah gejala kedwibahasawan. Akibat dari gejala kedwibahasaan tersebut akan menimbulkan adanya integrasi bahasa.
      Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka jurnal ini akan membahas tentang sebuah fenomena bagaimana pola integrasi leksikon bahasa Indonesia ke dalam bahasa Dayak Bahau, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur.
      Analisis data didasarkan pada data dari daftar Swades yang didapatkan penulis melalui wawancara langsung dengan narasumber pada tanggal 8 Maret 2012.

B. Kajian Teori
     Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain secara sistematis seolah-olah merupakan bagian dari suatu bahasa tanpa disadari oleh pemakainya (Kridalaksana: 1993:84). Salah satu proses integrasi adalah peminjaman kata dari satu bahasa ke dalam bahasa lain.
      Oleh sebagian sosiolinguis, masalah integrasi merupakan masalah yang sulit dibedakan dari interferensi. Chair dan Agustina (1995:168) menyatakan bahwa  integrasi adalah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi bagian dari bahasa tersebut. Tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau pungutan.
      Ditinjau dari segi waktunya, proses penyesuaian bentuk unsur integrasi itu tidak selamanya terjadi dengan cepat, tetapi bisa saja berlangsung agak lama. Proses penyesuaian unsur integrasi akan lebih cepat apabila bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya memiliki banyak persamaan dibandingkan unsur serapan yang berasal dari bahasa sumber yang sangat berbeda sistem dan kaidah-kaidahnya.
      Cepat lambatnya unsur serapan itu menyesuaikan diri terikat pula pada segi kadar kebutuhan bahasa penyerapnya. Sikap penutur bahasa penyerap merupakan faktor kunci dalam kaitan penyesuaian bentuk serapan itu. Jangka waktu  penyesuaian unsur integrasi tergantung pada tiga faktor antara lain (1) perbedaan dan persamaan sistem bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya, (2) unsur serapan itu sendiri, apakah sangat dibutuhkan atau hanya sekedarnya sebagai pelengkap, dan (3) sikap bahasa pada penutur bahasa penyerapnya. Penyerapan atau peminjaman dapat dilakukan setelah kedua kelompok penutur bahasa yang bersangkutan mengadakan hubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
      Ada beberapa jenis peminjaman bahasa, diantaranya adalah peminjaman gramatikal dan peminjaman leksikal. Jika seseorang menguasai dua bahasa yang berbeda dan kedua bahasa tersebut dipertemukan maka yang akan terjadi adalah apa yang disebut sebagai bilingualisme atau bahkan akan terjadi interferensi pada bahasa seseorang.
      Leksikon merupakan unsur bahasa yang terpenting oleh karena itu di dalam mengelola kata dan maknanya haruslah dicermati masalah satu kata mungkin mempunyai dua komponen yang berbeda. Satu makna dapat memiliki dua komponen leksikal atau bahkan lebih dan ini juga berlaku pada tataran kata yang sistematis.
      Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan sering kali diserap ke dalam bahasa daerah (salah satunya: Dayah Bahau, Kalimantan Timur). Proses penyerapan ini melalui proses integrasi dengan berbagai pola, baik fonologis maupun pola ortografis. Satuan lingual yang telah mengalami proses di atas telah secara formal menjadi pengisi leksikon bahasa daerah Dayak Bahau, Kalimantan Timur.

C.  Hasil penelitian dan pembahasan
     1. Hasil Penelitian
      Pola integrasi leksikon bahasa Indonesia ke dalam bahasa Dayak Bahau, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur ditemukan adanya dua pola, yaitu (1) pola integrasi fonologis, (2) pola integrasi ortografis.
      Pola integrasi fonologis dibagi menjadi dua bagian, yaitu integrasi total dan integrasi dengan modifikasi. Pola Integrasi fonologis total ditemukan data sebanyak enam belas leksikon, sedangkan untuk integrasi fonologis dengan modifikasi dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu dengan pergeseran fonem, penghilangan fonem, dan penambahan fonem
      Pola integrasi ortografis dalam penelitian ini hanya ditemukan satu pola yaitu dengan pola ortografis total. Berikut pembahasannya secara rinci.

2.  Pembahasan
     a)  Pola Integrasi Fonologis
      Pola integrasi fonologis dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu integrasi total dan integrasi dengan modifikasi.
1)    Integrasi Total
Integrasi total adalah proses pengintegrasian secara penuh, semua bunyi dalam kata itu dibaurkan menjadi satu kesatuan sehingga fonotatiknya tepat seperti bentuknya semula. Dalam analisis yang penulis lakukan ditemukan enam belas data yang termasuk pola intergrasi total. Berikut datanya.

No
1
tulang
[tulaŋ]
2
memasak
[məmasaʔ]
3
anak
[anaʔ]
4
jarum
[jarum]
5
tanam
[tanam]
6
cacing
[caciŋ]
7
nyamuk
[ñamuʔ]
8
bunga
[buŋa]
9
pasir
[pasir]
10
laut
[laut]
11
langit
[ laŋit]
12
bulan
[bulan]
13
kilat
[ʔilat]
14
asap
[asap]
15
abu
[abU]
16
malam
[malam]

2)    Integrasi dengan Modifikasi
Pola integrasi dengan modifikasi dibagi menjadi dua, yaitu
a.    Integrasi dengan cara melakukan pergeseran fonem
      Fenomena ini terlihat pada data sebagai berikut:
·           Fonem /r/ > /ʔ/        
       dengar          >          [deŋaʔ]
akar               >          [aʔaʔ]

·           Fonem /a/ > /U/
       daun              >          DUun            
·           Fonem /h/ > / ʔ /
buah-buah   >          [buaʔ buaʔ]
tanah             >          [ tanaʔ]
basah            >          [basaʔ]
putih              >          [putiʔ]

·           Fonem /h/ > /p/
hitam                         >          [pitam]

·           Fonem /s/ > /ʔ/
tipis                 >          [ñipiʔ]

·                    Fonem /t/ > /ñ/
       tipis                 >          [ñipiʔ]

b.    Integrasi dengan cara penghilangan fonem
Fenomena ini terlihat pada data sebagai berikut:
datang              >          [fataŋ]
nangis              >          [naŋif]
        




c.    Integrasi dengan cara penambahan fonem
Fenomena ini terlihat pada data sebagai berikut:
mata                  >          [matan]
api                     >          [apui]
aku                    >          [akui]
dua                    >          [ duaʔ]

b) Pola Integrasi Ortografis
    Dalam daftar kata Swades yang penulis dapatkan   ditemukan satu pola dalam integrasi ortografis, yaitu ortografis total. Berikut datanya:

No
Glos
Berian
1
tulang
[tulaŋ]
2
memasak
[məmasaʔ]
3
anak
[anaʔ]
4
jarum
[jarum]
5
tanam
[tanam]
6
cacing
[caciŋ]
7
nyamuk
[ñamuʔ]
8
bunga
[buŋa]
9
pasir
[pasir]
10
laut
[laut]
11
langit
[ laŋit]
12
bulan
[bulan]
13
kilat
[ʔilat]
14
asap
[asap]
15
abu
[abU]
16
malam
[malam]

D.  Simpulan
      Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang pola integrasi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Dayak Bahau, Mahakam Hulu, Kalimantan Timur adalah sebagai berikut:
  1. Ditemukan dua pola integrasi, yaitu: (1) pola integrasi fonologis, dan (2) pola integrasi ortografis.
  2. Pola integrasi fonologis dibedakan menjadi dua: (1) integrasi total, dan (2) integrasi dengan modifikasi,
  3. Integrasi dengan modifikasi terbagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu integrasi dengan cara melakukan pergeseran fonem, penghilangan fonem, dan integrasi dengan cara melakukan penambahan fonem.
  4. Pola integrasi ortografis hanya ditemukan satu pola, yaitu integrasi total.
 


E. Daftar Pustaka

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta

Suwito. 1985. Pengantar Awal Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Cipta

Kridalaksana, Harimurti.1998. Introduction to Word Formation and Word Classes. Jakarta. Universitas Indonesia.