Kamis, 12 April 2012

KONSEP PRAGMATIK DAN RUANG LINGKUPNYA


              Sejarah Pragmatik
Proses masuknya pragmatik ke dalam studi linguistik tergolong cukup lama. Proses ini dimulai ketika Chomsky menemukan titik pusat dari sintaksis. Namun sebagai seorang strukturalis tulen, Chomsky masih menganggap bahwa makna terlalu rumit untuk dipikirkan secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, selanjutnya pada tahun 1960-an Katz, Fodor dan Postal berhasil menemukan cara untuk memasukkan makna ke dalam teori linguistik yang formal. Disusul Lakoff (1971) yang kemudian berargumentasi bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari studi penggunaan bahasa. Sejak saat itulah pragmatik mulai masuk ke dalam ranah linguistic tetapi masih samar.
Seiring dengan perkembangan linguistik yang semakin luas, ternyata menyebabkan perubahan pandangan mengenai hakikat bahasa dan batasan linguistik. Perubahan tersebut menyebabkan kaum strukturalis Amerika mencoba menarik keluar masalah “makna” dari bidangnya itu. Namun semenjak Chomsky mulai menerima ketaksaan dan sinonim sebagai salah satu data linguistik yang dasariah, maka telah terbuka pintu studi semantik. Selanjutnya semantik ini dikembangkan oleh murid Chomsky dan akhirnya ditemukan bahwa ternyata sulit memisahkan antara makna dari konteks, karena setiap makna itu berbeda dengan konteks yang satu ke yang lain. Hal ini berakibat semantik masuk ke dalam pragmatik.
Melihat kenyataan seperti itu, kaum semantik generatif berusaha keras untuk bisa menemukan batasan yang jelas antara semantik dan pragmatik dalam arti yang luas. Sedangkan Chomsky membuat batasan yang sempit yang dikenal dengan Teori Kompetensi. Kompetensi  yang dimaksud disini merupakan sistem abstrak suatu bahasa (gramatikal) yang jika dikuasai memungkinkan seseorang dapat menggunakan bahasa itu (langue). Di sisi lain, sosiolinguistik dan psikolinguistik menolak teori tersebut. Sosiolinguistik menolak abstraksi Chomsky tentang penutur atau petutur yang ideal, Psikolinguistik di sini menjelaskan kemampuan bahasa pada manusia dengan menekankan pada model “proses”. Mereka menolak teori kompetensi karena pemikiran Chomsky yang memisahkan antara teori linguistik dengan proses psikologis.
Selain sosiolinguitik dan psikolinguistik, linguistik teks dan analisis wacana pun juga menolak teori kompetensi Chomsky. Linguistik teks menolak bahwa suatu teori linguistik tidak bisa membatasi diri pada tataran kalimat, begitu pula analisis percakapan menekankan bahwa studi bahasa dimensi utamanya adalah dimensi sosial.
Ancangan-ancangan di atas, ternyata mengakibatkan perubahan besar dalam linguistik. Terjadi pergeseran dari “kompetensi” ke arah “performasi”. Performasi merupakan tindak berbahasa (nyata) yang didasarkan pada competence dan dipengaruhi oleh faktor non lingustik: situasi, topik, partisipan, dll. (parole). Dikotomi Chomsky tentang kompetensi dan performasi inilah yang menjadi pusat perselisihan antara semantik dan pragmatik mengenai garis batas bidang-bidangnya.
            
            Pengertian Pragmatik
Istilah pragmatik pertama kali muncul ketika seorang filosof Charles Morris (1938) mencoba mengolah kembali pemikiran para filosof pendahulunya (Locke dan Pierce), mengenai ilmu tanda atau semiotik (semiotics). Dikatakan oleh Morris (melalui Nadar, 2009:2) bahwa semiotik memiliki tiga cabang kajian, yaitu sintaksis (syntax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis adalah cabang semiotika yang mengkaji hubungan formal antara tanda-tanda. Semantik adalah cabang semiotika yang mengkaji hubungan tanda dengan objek yang diacunya, sedangkan pragmatik adalah cabang semiotika yang mengkaji hubungan tanda dengan pengguna bahasa.

Berdasarkan trikotomi di atas, didapatkan pengertian pragmatik sebagai berikut:
a.       Pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatikalisasikan atau terkodifikasikan dalam struktur bahasa (“Pragmatics is study of those relation between laanguage and context that grammaticalized, or encoded in the structure of language”). (Levinson, melalui Nadar, 2009:4)
b.      Topik pragmatik adalah beberapa aspek yang tidak dapat dijelaskan dengan acuan secara langsung pada kondisi sebenarnya dari kalimat yang dituturkan. (“Pragmatics has as its topic those aspect of the meaning of utterances which cannot be accounted for by straightforward reference ti the truth conditions of the sentences uttered”). (searle, Kiefer & Bierwich, melalui Nadar, 2009:5)
c.       Pragmatik adalah kajian antara lain mengenai deiksis, implikatur, presuposisi, tindak tutur dan aspek-aspek struktur wacana. (“Pragmatics is the study of deixis (at least in part), implicature, presuposisi speech act and aspects of discourse structure). (Gazdar, melalui Nadar, 2009:5)
d.      Pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks. (Wijana,1996:2)

Dari beberapa pendapat di atas, terdapat kesamaan bahwa aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam kajian pragmatik adalah bahasa kaitannya dengan konteks.
      Jadi dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan telaah penggunaan bahasa untuk menuangkan maksud dalam tindak komunikasi sesuai dengan konteks dan keadaan pembicaraan. Keterlibatan konteks dalam interpretasi makna inilah yang membedakan semantik dengan pragmatik. Semantik mengkaji makna bebas konteks, sedangkan pragmatik terikat konteks.


           Perbedaan Pragmatik dan Semantik
Di sini, pragmatik mempunyai kaitan yang erat dengan semantik. Dikatakan demikian karena kedua cabang ilmu tersebut sama-sama mempelajari tentang makna. Tetapi hakikatnya terdapat perbedaan antara kajian pragmatik dan semantik. Perbedaan tersebut terletak pada pengunaan verba to mean (berarti). (Leech, 1993:8)

     Contoh :

(1)   What does X mean? (apa artinya X)
(2)   What did you mean by X? (apa maksudmu dengan X)

Dari contoh di atas dapat diartikan bahwa kalimat pada contoh (1), makna diperlakukan sebagai suatu hubungan yang hanya melibatkan dua segi (dyadic), dan perlakuan semacam itu masuk ke dalam kajian semantik. Sedangkan untuk contoh (2) makna diperlakukan sebagai suatu hubungan yang melibakan tiga segi (triadic) dan ketika makna sudah melibatkan tiga sendi maka pragmatiklah yang menjadi bidang analisisnya.

Berikut gambar untuk memperjelas penjabaran contoh di atas.


Semantik (dyadic)

Gambar 1
                                         






Pragmatik (triadic)
Gambar 2


 








Dari gambar (1) di atas, terlihat jelas bahwa dalam semantik, makna terpisah dari konteks tuturannya. Makna dapat langsung diartikan tanpa harus melihat siapa penuturnya, apa yang dituturkannya tetapi disini makna dapat langsung diartikan cukup dengan memperhatikan bentuknya saja. Sedangkan dalam pragmatik (gambar 2) makna tidak akan bisa terpisah dari konteks, dan bentuknya. Dalam pragmatik, tujuan komunikasilah yang paling penting dan tujuan ini tidak akan dapat tercapai apabila tidak mengkaitkan konteks tuturannya.
      Selain Leech, para ahli seperti Purwo (1990), dan Wijana (1996) juga mengemukakan pendapatnya. Wijana (1996: 6) mengemukakan bahwa semantik sebagai salah satu cabang (linguistik mengkaji makna bahasa (linguistik meaning, linguistik sense) secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna penutur (speaker meaning, speaker sense) yang bersifat eksternal. Sedangkan Purwo (1990:16) mengatakan bahwa semantik adalah telaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Pada dasarnya, semantik menelaah makna kata atau klausa tetapi makna yang bebas konteks (context-independent), sedangkan pragmatik menelaah makna yang terikat konteks (context-independent).
  
 Berdasarkan banyaknya pendapat tentang perbedaan antara semantik dan  pragmatik, dapat ditarik kesimpulan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna ujaran yang terkait situasi ujar atau dengan kata lain pragmatik merupakan telaah penggunaan bahasa untuk menuangkan maksud dalam tindak komunikasi sesuai dengan konteks dan keadaan pembicaraan.
  
Hubungan Pragmatik dengan Bidang Kebahasaan Lainnya
Pragmatik sebagai ilmu bersumber pada beberapa ilmu lain yang juga mengkaji bahasa dan faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ilmu-ilmu itu ialah filsafat bahasa, sosiolinguistik antropologi, dan linguistik – terutama analisa wacana (discourse analysis) dan toeri deiksis. Dari filsafat bahasa pragmatik mempelajari tindak tutur (speech act) dan conversational implicature. Dari sosiolinguistik, pragmatik membicarakan variasi bahasa, kemampuan komunikatif, dan fungsi bahasa. Dari antropologi pragmatik mempelajari etika berbahasa, konteks berbahasa, dan faktor non verbal. Dari linguistik dan analisa wacana dibicarakan lebih dalam pada bagian-bagian selanjutnya.

            Ruang Lingkup Pragmatik
Ruang Lingkup pragmatik sebagai bidang tersendiri dalam ilmu bahasa adalah deiksis, implikatur percakapan, praanggapan, dan tindak ujaran. Pokok kajian pragmatik tersebut akan diulas di bawah ini.
a.      Deiksis
Deiksis adalah gejala semantik yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks pembicaraan. Dengan kata lain adalah bahwa kata  Kata saya, sini, sekarang, misalnya, tidak memiliki acuan yang tetap melainkan bervariasi tergantung pada berbagai hal. Acuan dari kata saya menjadi jelas setelah diketahui siapa yang mengucapkan kata itu. Kata sini memiliki rujukan yang nyata setelah di ketahui di mana kata itu di ucapkan. Demikian pula, kata sekarang ketika diketahui pula kapan kata itu diujarkan. Dengan demikian kata-kata di atas termasuk kata-kata yang deiktis. Berbeda halnya dengan kata-kata seperti meja, kursi, mobil, dan komputer. Siapapun yang mengatakan, di manapun, dan kapanpun, kata-kata tersebut memiliki acuan yang jelas dan tetap.
Contoh, ketika seorang siswa yang mendapati tulisan di sebuah bus jurusan Unesa, yang bertuliskan hari ini bayar, besok gratis. Demikian pula di dalam sebuah warung makan di sekitar tempat kos mahasiswa, dijumpai sticker yang bertuliskan Hari ini bayar, besok boleh ngutang. Ungkapan-ungkapan di atas memiliki arti hanya apabila diujarkan oleh sopir mikrolet di hadapan para penumpangnya atau oleh pemilik warung makan di depan para pengunjung warung makannya.
Deiksis dapat di bagi menjadi lima kategori, yaitu deiksis orang (persona), waktu (time), tempat (place), wacana (discourse), dan sosial (social) (Levinson, dalam Nadar, 2009:53).

b.      Implikatur Percakapan
      Implikatur percakapan merupakan salah satu ide yang sangat penting dalam pragmatik. Implikatur percakapan pada dasarnya merupakan suatu teori yang sifatnya inferensial, suatu teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa, keterkaitan makna suatu tuturan yang tidak terungkapkan secara literal pada tuturan itu. Brown menjelaskan,

“Implicature means what a speaker can imply, suggest, or mean, as
distinct from what the speaker literally says”.
Implikatur percakapan berarti apa yang diimplikasikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur tidak terungkapkan secara literal dalam tuturannya.
      Menurut Levinson (melalui Nadar, 2009: 61), menyebutkan implikatur sebagai salah satu gagasan atau pemikiran terpenting dalam pragmatik (”one of the single most important ideas in pragmatik”). Salah satu alasan penting yang diberikannya adalah bahwa implikatur memberikan penjelasan eksplisit tentang cara bagaimana dapat mengimplikasikan lebih banyak dari apa yang dituturkan ”provides some explicit account of how it is possible to mean more than what is actually said”

Contoh :
Budi                : “Can you tell me the time?
Jatmiko            : “ Well, the milkman has come”.

Jawaban dari pertanyaan di atas nampaknya tidak relevan dengan permintaan Budi tentang waktu, namun Jatmiko sebenarnya ingin mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak tahu secara tepat pada saat itu pukul berapa. Dia berharap penanya dapat memperkiraka waktunya sendiri dengan mengatakan bahwa tukang susu sudah datang. Dalam konteks ini, nampaknya penutur dan lawan tutur sama-sama sudah mengetahui pukul berapa tukang susu biasanya datang.

c.       Praanggapan
      Jika suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, ikut turut serta pula tambahan makna yang tidak dinyatakan tetapi tersiratkan dari pengucapan kalimat itu. Pengertian inilah yang dimaksud dengan praanggapan. Kalimat yang dituturkan dapat dinilai tidak relevan atau salah bukan hanya karena pengungkapannya yang salah melainkan juga karena praanggapannya yang salah.
Contoh :
A: What about inviting John tonight?
B: What a good idea; then he can give Monica a lift
Praanggapan yang terdapat dalam percakapan di atas antara lain adalah (1) Bahwa A dan B kenal dengan John dan Monica, (2) bahwa John memiliki kendaraan – kemungkinan besar mobil, dan (3) bahwa Monica tidak memiliki kendaraan saat ini.

d.      Tindak Ujaran
      Menurut Austin mengucapkan sesuatu adalah melakukan sesuatu. Austin secara khusus mengemukakan bahwa tuturan-tuturan tidak semata-mata hendak mengkomunikasikan suatu informasi, melainkan meminta suatu tindakan atau perbuatan.
Contoh :
Bilamana seseorang mengatakan, misalnya: “Saya minta maaf”; “Saya berjanji”; artinya, permintaan maaf dilakukan pada saat orang itu minta maaf dan bukannya sebelumnya. Janji atau kedatangannya kelak harus dipenuhi, dan bukannya sekarang ini.    

      Dalam menganalisis tindak ujaran atau tuturan, dikaji tentang efek-efek tuturan terhadap tingkah laku pembicara dan lawan bicaranya. Austin membedakan adanya tiga jenis efek tindak tuturan, yaitu: tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi. Tindak lokusi mengacu pada makna literal, makna dasar, atau makna referensial yang terkandung dalam tuturan. Tindakan yang dilakukan sebagai akibat dari suatu tuturan disebut tindak ilokusi. Dalam hal ini, tindak ilokusi berarti “to say is to do”. Tindak perlokusi mengacu pada efek atau pengaruh suatu tuturan terhadap pendengar atau lawan bicara.



DAFTAR PUSTAKA

Brown, Douglas. 2008. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Person Education

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. (Terj. Dr. M.D.D. Oka). Jakarta: UI Press.

Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Purwo, Bambang K. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Kanisius.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.

1 komentar:

  1. yang di maksud dengan abstrak dalam pragmatic itu apa?

    BalasHapus